Friday, 26 February 2016

MOHON LUANGKANLAH WAKTU ANDA UNTUK MEMBACA INI !!! YA ALLAH, MALU SEKALI SAYA MEMBACA KISAH NYATA INI ! BERIKUT PENJELASANNYA

Teguran, Saya menangis serta malu baca cerita ini. . Bilamana artikel ini dirasa bermanfaat untuk Para Sahabat? Jadi Sebarkanlah dgn cara klik tombol “share/bagikan” di bawah catatan ini.


Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya : Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan dapat membeli.
Namun tetap saya coba hampiri serta menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lalu ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya, ”kalau yang itu berapa Pak? ”.

“Yang itu 700 ribu bu, ” jawab saya. “Harga pasnya berapa? ”, Tanya kembali si Ibuu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah……. “Tapi, duit saya cuma 500 ribu, bisa pak? ”, pintanya.
Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman hingga akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu pada ibu itu.

Sayapun mengantar hewan qurban itu sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh tubuh karena lihat keadaan rumah ibu itu.
Rupanya ibu itu cuma tinggal bertiga, dengan ibunya serta puteranya dirumah gubug berlantai tanah itu. Saya tak lihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau


barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar serta bantal lusuh.

Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak….. bangun mak, nih lihat saya bawa apa? ”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan hingga akhirnya terbangun. “Mak, saya telah belikan emak kambing buat qurban, kelak kita antar ke Masjid ya mak…. ”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.
Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sembari mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga bila emak mau berqurban”.

“Nih Pak, uangnya, maaf ya bila saya nawarnya kemurahan, karena saya cuma tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya…. ”, kata ibu itu

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa, “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang tentu lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu, ”sudah bu, agar biaya kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.
Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini telah basah karena tidak sanggup mendapat teguran dari Allah yang telah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan serta penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup.

Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, tetapi masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, arloji, tas, ataupun aksesoris yg menempel di badan kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Tetapi selalu kita sembunyi di balik kata tak dapat atau tak dianggarkan.

Sumber : sebarkanlah. com

No comments:

Post a Comment