Saturday, 20 February 2016

BERHENTILAH ANDA !!! PANGIL PAPA-MAMA DENGGAN PASANGAN ANDA,BACA AKIBAT NYA.TOLONG SEBARKAN ARTIKEL INI KE SEMUA !


Apakah anda memiliki panggilan sayang dengan pasangan dengan sebutan papa-mama, ayah-bunda, atau abi-ummi? Biasanya pasangan suami istri banyak melakukan sekian untuk membiasakan anak-anaknya saat memanggil orang tuanya. Sayangnya panggilan ini jadi terbawa saat pasangan tengah berdua. Akhirnya suami memanggil istri dengan sebutan ibu, bunda, ibu serta demikian pula seseorang istri saat memanggil suaminya.

Memang maksud itu baik untuk membiasakan anak agar memanggil orang tuanya dengan panggilan sopan. Namun hal semacam ini akan beresiko buruk apabila dikerjakan oleh pasangan untuk dalam kehidupan berumah tangga.

Seorang Psikolog asal Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan, panggilan " Mama-papa " dan sejenisnya yaitu sebutan untuk fungsi pasangan sebagai bapak dan sebagai ibu. Hal ini jadi terkesan membatasi kemesraan jalinan pasangan suami istri. Apabila senantiasa dikerjakan, tidak tutup peluang menimbulkan kebosanan dalam berumah tangga.

Meskipun panggilan bapak dari seorang istri tidak merujuk pada profil orang tua lelakinya, namun secara psikologi dan alam bawah sadar menangkap pesan yang sekian. Pasalnya selama ini panggilan itu memang hanya diperuntukkan untuk orang tua lelaki. Sampai pola dan perilaku istri secara tidak sadar akan menempatkan dirinya seperti seorang anak. Hal ini bisa berlaku pada suami yang memanggil istri dengan sebutan ibu atau sejenisnya. Baiknya suami istri menggunakan panggilan sayang yang lain dan tidak mengacu pada panggilan spesial yang ada hubungan dengan mahram.

Terkecuali efek lewat cara psikologis, panggilan sayang yang merujuk pada mahram ternyata dilarang dalam Islam. Sebenarnya, agama Islam mengajarkan umatnya untuk memberi panggilan sayang pada pasangan, tetapi tidak dengan sebutan yang terkait dengan mahram. Misalnya Nabi Muhammad SAW yang memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira, yang berarti kemerah-merahan pipinya. Kadang kala, Rasulullah juga memanggil Aisyah dengan sebutan Aisy, yang menunjukan panggilan manja sebagai sinyal sayang.

Namun Rasulullah SAW melarang keras umatnya yang memanggil istri atau suaminya terkait dengan mahram. Seperti hadis riwayat Abu Daud


tentang larangan Nabi Muhammad waktu seorang pria memanggil istrinya dengan panggilan Ukhti (saudariku)

Ada seorang lelaki yang berkata pada istrinya, ‘Wahai Ukhti! ’ Lalu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah istrimu itu saudarimu? ’ Beliau membencinya dan melarangnya. ” (HR. Abu Daud)

Demikian pula diterangkan dalam kitab Ar-Raudhatul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni’ yang diisi, “Dan dibenci memanggil satu di antara diantara pasangan suami istri dengan panggilan spesial yang ada hubungan dengan mahram, seperti istri memanggil suaminya dengan panggilan ‘Abi’ (ayahku) dan suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku). ”

Lalu bagaimana dengan pasangan yang sudah terlanjur memanggil pasangan dengan sebutan yang terkait dengan mahram? Memanglah di beberapa daerah di Indonesia, kultur budaya yang terbentuk mulai sejak sebagian ratus th. lalu, tentunya tak dapat digerus begitu saja. Tetapi untuk " amannya ", makin lebih baik bila sebutan-sebutan ini diikuti dengan nama anak. Umpamanya Bapak Nayla, atau Ibu Dede.

Atau barangkali, antar suami dan istri memiliki panggilan sayang sendiri, sebagaimana Rasulullah yang kerap menegur istrinya, Aisyah Radhiallaahu 'anha, dengan nama dan tambahan sebutan Humaira (yang pipinya kemerah-merahan). Pilihan terpulang pada Anda

Semoga info ini memberikan pengetahuan baru pada anda. Seandainya punyai referensi lain terkait artikel ini bisa ditambahkan pada kolom berikut ini. Apabila yang sudah menikah saja dilarang menggunakan panggilan ini, bagaimana dengan mereka yang belum menikah tetapi telah di panggil Umi-Abi, Ibu Papa dan panggilan lain yang sejenisnya ya.

 http :// www. redaksiana. xyz/

No comments:

Post a Comment